Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta

       Ide Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari cara bagaimana bagaimana cara melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Upaya itu dalam ushul fikih disebut tahqiq Al-manath  yang dalam praktiknya bisa berbentuk mashlahah mursalah, istihsan dan urf .

       Dengan merujuk pada dalil,”apa yang dipandang baik oleh kebanyakan manusia,maka itu juga baik menurut Allah” (ma ra’ahu al-muslimuna hasanan fahuwa ‘inda Allah hasanun), ulama malikiah tak ragu menjadikan istihsan sebagai dalil hukum. Dan kita tahu, salah satu bentuk istihsan adalah meninggalkan hukum umum (hukum kulli) dan mengambil hukum pengecualian (hukum juz’i).

        Sekiranya istihsan banyak membuat hukum pengecualian, maka ‘urf sering mengakomodasi kebudayaan lokal. Sebuah kaidah menyatakan, al-tsabitu bil ‘urfi kats tsabiti bin nash (sesuatu yang ditetapkan berdasarkan tradisi “sama belaka kedudukannya” dengan sesuatu yang ditetapkan berdasar Al-Quran-hadits).

Kaidah fikih lain menyatakan, al-‘adah muhakkamah (adat bisa dijadikan sumber hukum). Ini menunjukkan, betapa islam sangat menghargai kreasi-kreasi kebudayaan masyarakat. Sejauh tradisi itu tak menodai prinsip-prinsip kemanusiaan, maka ia bisa tetap dipertahankan. Sebaliknya, jika tradisi itu mengandung unsur yang mencedrai martabat kemanusiaan, maka tak ada alasan untuk melestarikan.  Dengan demikian, Islam Nusantara tak menghamba pada tradisi karena tradisi memang tak kebal kritik. Sekali lagi, hanya tradisi yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan yang perlu dipertahankan.

     Penghormatan pada nilai-nilai kemanusiaan adalah sosok guru hukum Islam. Izzuddin ibn Abdis Salam dalam Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam menyatakan, tercapainya kemaslahatan  manusia adalah tujuan dari seluruh pembebanan hukum dalam Islam (innama al-takalif kulluha raji’atun ila mashalihil ‘ibad). Demiakian pentingnya kemaslahatan tersebut, maka kemaslahatan yang tak diafirmasi oleh teks al-Qura’an –Hadits pun bisa dijadikan sumber hukum. Tentu dengan catatan, kemaslahatan itu tak dinegasi nash al-Qur’an –Hadits. Itulah mashlahah mursalah.

      Dengan demikian, jelas bahwa dalam penerapan Al-Qur’an dan Hadits, Islam Nusantara secara metodologis bertumpu pada tiga dalil tersebut, yaitu mashlahah mursalah, istihsan, dan ‘urf. Tiga dalil itu divandang relepan karena sejatinya Islam Nusantara lebih banyak bergerak pada aspek ijtihad tathbiqi  ketimbang ijtihad istinbathi. Jika ijtihad istinbathi tercurah pada bagaimana menciptakan hukum (insya’ al-hukm). Sekiranya ujian kesahihan ijtihad istinbathi,  dilihat salah satunya dari segi koherensi dalil-dalilnya, maka ujian ijtihad tathbiqi  dilihat dari korespondensinya dengan aspek kemanfaatan di lapangan.

     Contoh terang dari ijtihad tathbiqi adalah kebijakan khaliffah Umar ibn khattab yang tak memotong tangan para pencuri saat krisis, tak membagi tanah hasil rampasan perang, tak memberi zakat pada para muallaf. Ketika khalifah Umar dihujani kritik kebijakan, ia menjawab, “dzaka ‘ala ma qadhaina, wa hadza ‘ala ma naqdhi”  (itu keputusanku yang dulu, dan ini keputusanku yang sekarang). Perubahan kebijakan ini ditempuh khalifah umar setelah memperhatikan perubahan situasi  dan kondisi di lapangan. Sebuah kaidah fikih menyebutkan .“taghayyur al-ahkam bi taghayyur al-azminah wa al-amkinah wa al-ahwal wa al-‘adat” (perubahan hukum mengikuti perubahan situasi, kondisi, dan tradisi).

     Mengambil inspirasi dari kasus Sayyidina Umar ibn Khattab tersebut, Islam Nusantara datang bukan untuk mengubah hukum waris al-qur’an misalnya. Namun,bagaimana hukum waris itu diimplementasikan sekarang. Dalam kaitan implementasi itu, di Indonesia misalnya dikenal harta gono-gini, yaitu harta rumah tangga yang diperoleh suami-istri secara bersama-sama. Harta gono-gini biasanya dipisahkan terlebih dahulu sebelum pembagian waris Islam dilakukan. Penyesuaian hukum ini dijalankan masyarakat secara turun-temurun karena rupanya narasi keluarga Islam di Indonesia berbeda dengan narasi keluarga Islam di Arab sana.

      Begitu juga tak ada yang membantah bahwa menutup aurat adalah perintah syariat. Namun, dikalangan para ulama terjadi perselisihan mengenai batasan aurat. Ada ulama yang longgar, tapi ada juga ulama yang ketat dengan menyatakan bahwa seluruh tubuh perempuan bahkan suaranya adalah bagian dari aurat yang harus disembunyikan. Keragaman pandangan ulama mengenai batasan aurat tersebut tak ayal lagi berdampak pada keragaman ekspresi perempuan muslimah dalam berpakaian. Beda denganpakaian  istri para ustadz sekarang, istri tokoh-tokoh Islam Indonesia zaman dulu terlihat hanya memakai kain Sampir, baju kebaya, dan kerudung penutup kepala. Pakaian seperti itu hingga sekarang dilestariakan salah satunya oleh istri almarhum Gus Dur, Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

       Dengan mengatakan ini semua, maka janganlah salah sangka tentang Islam Nusantara. Sebab, ada yang berkata bahwa Islam Nusantara ingin mengubah wahyu. Ketahuilah bahwa kita tak hidup di zaman turunnya wahyu. Tugas kita sekarang adalah bagaimana menafsirkan dan mengimplementasikan wahyu tersebut dalam konteks masyarakat yang terus berubah.  Dalam kaitan itu, bukan hanya pluralitas penafsiran yang merupakan keniscayaan. Keragaman ekspresi pengamalan Islam pun tak terhindarkan. Itu bukan sebuah kesalahan, asal tetap dilakukan dengan menggunakan metodologi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.