Kodim dan Brimob standby di lokasi, “Minahasa Utara Sempat Memanas”

Massa umat Muslim berkumpul di Masjid Diponegoro Airmadidi, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara. Foto Istimewa
LensaNews, Minahasa Utara ~ Usai melakukan pertemuan dan membacakan pernyataan sikap di Masjid Raya Ahmad Yani, Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut) serta membahas tindaklanjut atas tragedi perusakan tempat ibadah di Perumahan Agape, Desa Tumaluntung, Kabupaten Minahasa Utara, sejumlah aktivis Islam, kaum intelektual, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama dan masyarakat muslim berangkat menuju lokasi tempat kejadian perkara (TKP).

Terpantau pukul 15.10 Wita, sekitar 200 massa dari ormas Islam tiba di lokasi menuju Masjid Alhidayah Perum Agape, Desa Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa utara.

Kemudian mereka menuju balai pertemuan dengan mendapat pengawalan dari aparat, Kapolres Minut dan Dandim 1310/Bitung.

Selanjutnya pukul 15.20 Wita, massa langsung masuk ke dalam Masjid Alhidayah untuk melaksanakan Salat Ashar berjamaah.

Dalam kesempatan tersebut Djafar Alkatiri kembali menyampaikan bahwa kejadian pengrusakan tempat ibadah di Perumahan Agape, Desa Tumaluntung, Minahasa yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab dan menyebabkan terjadinya penghancuran rumah ibadah telah mengganggu kehidupan beragama yang selama ini terbina dengan baik.

“Ini mengakibatkan terjadi dinamika toleransi di antara sesama umat beragama di Sulut tercoreng. Kami ingin membantu pemerintah setempat, pemerintah provinsi, dan membantu pihak keamanan untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik dan damai,”ujarnya.

Setelah itu tujuh tuntutan kembali dibacakan untuk mempertegas bahwa kasus tersebut harus segera diselesaikan.

Namun di luar masjid, suasana sempat memanas karena terjadi insiden kecil. Hal ini disebabkan ada salah satu warga yang melintas di depan massa dalam keadaan mabuk dan dicurigai mata-mata dari kelompok ormas.

“Massa dengan masyarakat Desa Tumaluntung sempat terjadi keributan sambil kejar-kejaran akibat salah satu masyarakat Desa Tumaluntung telah melempar batu ke arah massa yang sedang keluar hendak balik ke Manado,” kata sejumlah aktivis.

Kemudian pukul 16.12 Wita, massa dengan masyarakat terjadi kembali kejar-kejaran sambil berteriak karena masyarakat dari Desa Tumaluntung sempat mengeluarkan sesajam kepada massa. Namun situasi cepat diatasi oleh pihak aparat Kodim dan Brimob yang siaga.

Sementara massa melanjutkan perjalanan untuk menuju ke Polda Sulawesi Utara. Situasi sampai saat ini kondusif dan aparat keamanan baik TNI maupun Polri tetap masih standby di lokasi. (CS/Red)

Sumber : SINDOnews