3 Notaris Palsu di Tangkap Polisi, Dalam Sindikat Jual Beli Rumah


Lensanews (Jakarta) - Tiga tersangka sindikat jual beli rumah dengan modus notaris palsu kembali ditangkap petugas Subdit II Harta Benda dan Bangunan Tanah (Harda) Direkotrat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya.

Tiga tersangka yang diamankan, yakni DH, DR dan S. Dua tersangka lainnya, yakni D dan E masih buron.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir Reskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Pol Suyudi mengungkapkan, ke tiga tersangka memiliki peran masing-masing.

Tersangka DH berperan sebagai penjamin surat hak milik (SHM) dan sertifikat korban. Di mana sertifikat tersebut nantinya diagunkan sehingga para tersangka bisa memeroleh keuntungan. Tersangka DH sendiri merupakan seorang residivis atas kasus serupa.

Sedangkan tersangka DR berperan sebagai notaris palsu, dan S diduga mengetahui proses pemalsuan dan penjaminan sertifikat.

Kasus ini dapat terungkap setelah pihaknya menerima laporan dari masyarakat. Laporan itu terigester dengan nomor LP/4382/VII/2019/ PMJ/Ditreskrimum, tanggal 19 Juli 2019.

Aksi sindikat ini, lanjutnya, mulai tercium begitu pelapor sekaligus Korban VYS merasa curiga karena sertifikat rumahnya tak kunjung dikembalikkan oleh sindikat tersebut. Korban hendak menjual rumahnya di kawasan Kebagusan, Jakarta Selatan senilai Rp 15 miliar dan mendatangi kantor notaris yang ternyata palsu di Jalan Iskandarsyah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Di tempat ini terjadi pertemuan VYS dengan DH yang mengaku sebagai staf notaris. Korban disuruh menyerahkan sertifikat asli dengan alasan dicek ke Badan Pertanahan Nasional (BPN). Korban pun percaya dan menyerahkan sertifikatnya,” Ujar Kombes Pol Suyudi di Jalan Iskandarsyah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (09/08/2019).

Begitu sertifikat korban dikantongi, sertifikat asli itu langsung dialih namakan menjadi milik tersangka DH.

“Setelah ada penyerahan (sertifikat), terjadi PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli), kemudian sertifikat itu dipalsukan, properti bergeser diganti nama saudari DH,” Terangnya.

Selanjutnya, sertifikat asli korban pun diagunkan ke sebuah koperasi simpan pinjam di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Dari sana, para tersangka berhasil mengantongi uang senilai Rp 5 miliar.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 266 KUHP dan atau Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 KUHP dan Pasal 56 KUHP dengan ancaman penjara di atas 5 tahun.


(Din)



Sumber : poldametrojaya