Penyebar Hoaks Terulangnya Kerusuhan 1998 di Tangkap Polisi

Arif Kurniawan Pemilik Akun Antonnio Banerra di Tangkap Polisi
Lensanews (Surabaya) – Petugas Kepolisian berhasil menangkap pemilik akun Facebook dengan nama Antonnio Banerra yang kedapatan telah menyebarkan informasi Hoaks terkait terulangnya kerusuhan 1998, pemilik akun sekaligus pelaku hoaks akan dikenakan UU ITE.

Pihak kepolisian sudah merilis tersangka Arif Kurniawan Radjasa selaku pemilik akun Facebook Antonio Banerra, dengan menggunakan baju tahanan tersangka dipamerkan bersama barang bukti di ruang Direskrimsus Polda Jawa Timur (Jatim).

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, penangkapan tersangka dilakukan setelah seminggu sebelumnya ada laporan yang masuk, untuk itu pihaknya mengambil langkah dan langsung bergerak cepat agar penyebaran hoaks tidak menimbulkan luka dan keresahan di masyarakat.

"Atensi Mabes Polri atensi Polda Jatim sama terhadap akun yang namanya Antonio Banerra ini, pengaduannya sudah satu minggu yang lalu dan sudah masuk ke Bareskrim juga Humas Polri dari berbagai netizen dan masyarakat," Ujarnya kepada awak media, Minggu (07/04/2019).

Dirinya menambahkan, terkait yang di posting Arif alias Antonio sekaligus tersangka telah menimbulkan keresahan dan membuka luka lama bangsa Indonesia soal tragedi 1998 kepada etnis tertentu.

"Yang betul-betul digarisbawahi mengapa pimpinan Polri, pimpinan Polda Jatim Bapak Irjen Pol Luki Hermawan sangat konsen terhadap kasus ini, karena postingan seperti ini menjadi sesuatu perhatian kita semua untuk melakukan penangkapan terhadap manusia ini," Imbuhnya.

"Sehingga salah satu yang kita lakukan hari ini bagaimana menampilkan orang-orang rasis di Indonesia tidak lagi berada di sini, kita sudah rasis kalau sudah menyinggung suku, agama, dan ras," tambahnya.

Selanjutnya, untuk ancaman hukuman tersangka akan dikenakan 28 ayat 2 Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 tentang ITE, dan karena hukumannya di atas 5 tahun, polisi langsung melakukan penahanan.

"Pasal yang kita kenakan tetap yang tertinggi 28 ayat 2 Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 tentang ITE, ancamannya di atas 5 tahun sehingga kita bisa menahan yang bersangkutan," Pungkasnya.


(DN)



Sumber : detiknews.com