Pusat Informasi Bahari Tangkolak Banjir Pengunjung, Masyarakat Penasaran Lihat Langsung Artefak Peninggalan Kolonial VOC dan Dinasti Ming Tiongkok


Lensanews.id (Karawang) - Sejak dibuka dan diresmikan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, akhir tahun 2018 silam. setiap hari oleh masyarakat. Kedatangan masyarakat ke kawasan Pusat Informasi Bahari Tangkolak di Desa Sukakerta, Cilamaya Wetan. Untuk menyaksikan langsung artefak bersejarah, Artefak peninggalan kolonial VOC dan Dinasti Ming, Tiongkok.

Pusat Informasi Bahari Tangkolak banjir pengunjung disetiap akhir pekan, tak kurang 100 pengunjung memadati kawasan Pusat Informasi Bahari Tangkolak, di Desa Sukakerta, Cilamaya Wetan tersebut.

Kebanyakan dari mereka datang, untuk berswa foto di Kawasan Hutan Ekowisata Mangrove Tangkolak dan melihat langsung benda-benda bersejarah dalam galeri Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT).

Pengelola Pusat Informasi Bahari Tangkolak, Tayanto menjelaskan, setiap hari, sedikitnya 60 hingga 100 orang datang ke Desa Sukakerta, Cilamaya Wetan, untuk berwisata.

"Jumlah pengunjung semakin membeludak, saat muslim libur dan akhir pekan," ungkap Tayanto, kepada Lensanews.id, Jumat 08/03/2019).

Dalam Galeri Pusat Informasi Bahari Tangkolak, kata dia, tersimpan puluhan benda bersejarah peninggalan VOC dan Dinasti Ming, Tiongkok. Mulai dari guci, mangkok, botol minuman hingga bola meriam, tertata rapih dalam galeri tersebut.

"Dibalik penemuan benda-benda bersejarah ini, ada cerita kelam yang tak banyak orang ketahui," katanya.

Dibalik penemuan kapal VOC dan Tiongkok yang tenggelam di laut Cilamaya. Ada puluhan nyawa nelayan Tangkolak, yang melayang tersulit rasa penasaran mendalam.

Kata Tayanto, mereka meninggal, dalam pencariannya berburu harta karun di dalam laut Cilamaya, yang sangat melimpah di dalam kapal VOC dan Tiongkok.

"Benda-benda yang di pajang dalam kaca ini, nilainya sangat mahal. Selain itu, historinya menyeramkan, untuk kami masyarakat nelayan Tangkolak," ungkapnya.

Sementara, salah satu pengunjung museum BMKT, Nur Moch Topan, mengaku sangat kagum dengan potensi pariwisata yang ada di Desa Sukakerta.

Selain hutan mangrovenya yang astri dan dihuni ribuan burung bangau putih, pesona lautnya juga berhasil menyihir mata para pengunjung.

"Tidak sia-sia menempuh jalan jauh. Tempat ini memang bagus, meski harus ada pembenahan sana-sini. Seperti, sampah laut yang harus segera diatasi," imbuhnya.

Pengunjung lain, Devi, mengatakan, berswa foto dengan latar belakang hutang mangrove dan benda bersejarah di museum BMKT, merupakan pilihan yang tepat, untuk menghabiskan waktu berlibur.

"Tempatnya enak, udaranya juga seger, mungkin karena hutannta lebat. Sayang, masih banyak sampah laut disana-sini," katanya.(Red)