Baru Dua Bulan Usai Direhab, Gedung SDN Mulyasejati 3 Kembali Rusak

Siswa menunjukan sejumlah kondisi kegung sekolah yang sudah rusak lagi.

Lensanews.id (Karawang) – Baru selesai direhab gedung sekolah SDN Mulyasejati 3, Desa Mulyasejati, Kecamatan Ciampel, kondisinya sudah kembali meprihatinkan. Hal tersebut diduga akibat pengerjaan rehab yang dikerjakan oleh CV. WIRA KARYA PUTRA dinilai asal jadi.
Hal tersebut membuat kepala sekolah dan para guru di sekolah tersebut sangat kecewa. Pasalnya pada saat di mulainya rehab bangunan sekolah sampai selesai, tidak ada koordinasi, sehingga timbul ketidak puasan dengan hasil pekerjaan dari CV tersebut.
“Pihak pemborong tidak ada koordinasi dengan korwil terkait laporan bangunan PUPR ini, datang tak dijemput pulang tak diantar, untuk anggaran Rp 220 juta lebih, dibangunlah bangunan itu, direhab kusen kayu diganti sama pakai kusen stanlees, itu dua ruang, ternyata bangunan fisik yang selesai hanya 80 persen,” Ungkap Kepala Sekolah SDN Mulya Sejati III, Suhermawan,s.pd saat di temui Lensanews.id di ruangannya, Selasa (12/03/2019).
Dirinya juga mengatakan, bahwa dirinya selaku Kepsek tidak mengharapkan apa-apa dari pemborong tersebut, melainkan pihaknya hanya ingin menanyakan apakah dengan anggaran sebesar itu ada meubeleurnya, tetapi dirinya tidak pernah bertemu dengan pihak pemborong, sampai ruangan yang baru tersebut dipakai oleh siswa.
“Saya tanyakan meubeulernya mana, karena pengawas atau pemborongnya belum ketemu, datangnya siang terus sekitar jam 14.00 dan jam 15.00 WIB. Dan saya bilang ke pada guru yang ada disini, ingin ketemu,” Terangnya.
Dirinya juga sangat menyayangkan dengan pekerjaaan dari CV tersebut karena dinilai tidak profesional dalam pembangunan rehabilitasi sekolahnya itu, karena anggaran yang sangat besar, terlihat banyak kekurangan-kekurangan yang seharusnya di perhatikan.
“Sesudah selesai, ruangan kelas yang di skat itu tidak di engsel, kalau di engsel manual kan tidak bisa harus menggunakan mesin, karena staenless menggunakan baut, termasuk pintu, dan pintu kan seharusnya bautnya itu ada empat, ini cuma satu, jadinya kan nyenghab (tidak rapi), kalau yang atasnya paki empat baut, tapi engsel yang bawah pakai satu baut, posisinya kan jadi berubah,” Lanjutnya.
Bahkan dirinya sudah melaporkan kondisi bangunan yang baru di rehab tersebut ke Koordinator Wilayah (Korwil) setempat, karena pekerjaanya tidak memuaskan, dan saat itu mereka sangat antusias menanggapi responnya.
“Saya protes ke korwil, bagaimana dengan bangunan sekolah ini bu, kata pengawas disuruh didata sekolah dasar mana saja dan berapa persen, kata saya bukan 90 persen tapi 80 persen, karena tidak memuaskan, sehingga kekurangan-kekurangannya dari bangunan itu tidak koordinasi dulu ke saya, sudah selesai, tutup pintu lalu titipkan dan kasih kunci ke guru, ya seharusnya kan serah terima dulu, kekurangannya sepertia apa, nanti saya kontrol, dan lampu-lampu juga tidak rapih, jadi sudah selesai, ditinggalkan saja seperti itu. Kalau bisa sih menurut prosedur,” Ucapnya. (Din)