Pihak Waterpark De’Keraton Bay Diduga Paksa Keluarga Korban Untuk Tanda Tangan Surat Perdamaian

Surat pernyataan keluarga korban yang dimana
berlawanan arah dengan surat pernyataan yang terbit sebelumnya
Lensanews.id (Karawang) – Berbagai macam cara dilakukan untuk mencapai sesuatu, demi lepasnya pertanggungjawaban dimata hukum, Hal tersebut tergambar setelah beberapa pekan pristiwa  tewasnya anak yatim berumur 12 tahun di lokasi area Waterpark De,Keraton Bay, yang diduga diakibatkan oleh kelalaian dari pihak pengelola (Pengusaha), kini beredar di group jejaring sosial whatsapp dikalangan wartawan Kabupaten Karawang, Prihal adanya paksaan kepada pihak keluarga korban untuk menandatangani surat perdamaian dari pihak pengelola waterpark de kraton bay, bahkan dalam tulisan pernyataannya pun, Juwita selaku keluarga korban menjelaskan bahwa pernah didatangi oknum kepolisian agar perkaranya diselesaikan secara damai.
" Pihak keluarga itu tidak bisa membaca, serta pihak keluarga tidak pernah meminta uang kepada pihak pengelola waterpark de kraton bay, serta memaksa keluarga korban untuk menanda tangani surat pernyataan yang tidak dimengerti keluarga korban, dikarenakan keluarga korban tidak bisa membaca dan menulis, bahkan ada oknum kepolisian yang ikut turun tangan memfasilitasi agar keluarga korban mau diajak berdamai oleh pihak pengelola " Papar Hendra Supriatna.,SH.,MH selaku Team penasehat hukum klinik bantuan hukum kang jimmy dan selaku penasehat hukum keluarga korban melalui rekaman suara yang di share di group jejaring sosial whatsapp wartawan Kabupaten Karawang.
Menurut informasi yang dihimpun, pihak keluarga korban melalui penasehat hukumnya akan melaporkan perkara ini kepada pihak kepolisian resort Karawang, untuk mencari dan menegakan keadilan terhadap keluarga korban. 
Sangat prihatin dan disayangkan, disaat keluarga korban masih dalam keadaan berduka, ada pihak dari PT.Purindo Sukses selaku pengembang sekaligus pemilik Waterpark De,Keraton Bay dengan melibatkannya oknum dari kepolisian, dengan tega melakukan tindakan paksa untuk menandatangani sesuatu yang tidak di mengerti oleh keluarga korban ditengan suasana berduka, dan terkesan dipaksakan.(Din)