Pihak Waterpark De’Keraton Bantah Isu Kelalaian Dari Management Yang Mengakibatkan Melayangnya Nyawa Seorang Anak, Menuai Kontroversi






Lensanews.id (Karawang) – Melayangnya nyawa Ramdan Fauzi (12), warga Puri Kosambi, Desa Duren, Kecamatan Klari, yang tersedot oleh alat penghisap/ pembuangan air melalui lubang pipa yang berada didalam kolam renang, pihak management Waterpark De’Keraton yang berada di Jl. Raya Telagasari, Desa Pancawati, Kecamatan Klari, membantah kalau kejadian tersebut kelalaian dari pihaknya selaku bagian dari Management Waterpark De’Keraton.

Hal tersebut di lontarkan oleh orang mengaku dirinya sebagai Humas di Waterpark De’Keraton Tata Warta Sasmita, bahwa lubang pipa penghisap air memang menggunakan saringan, agar aman bagi mereka yang berkunjung, dan sekarang saringan tersebut di bawa pihak berwajib untuk dijadikan barang bukti.

“Untuk lubang penghisap air mancur tersebut memakai saringan, sehingga aman untuk pengunjung dan saringan tersebut telah di bawa oleh pihak kepolisian sebagai barang bukti,” ungkapnya kepada Lensanews.id, di lingkungan Waterpark De’Keraton, Minggu (10/02/2019) .

Dirinya tidak pecaya dengan kejadian tersebut, karena tidak ada jejak, dan ternyata di kolam memang ada anak yang tersedot ke pembuangan air, evakuasi dilakukan selama 20 menit, dan saat itu si korban masih bernafas, lalu di larikan ke rumah sakit Fikri Medika, karena penangan dari sana kurang, akhirnya si korban meninggal.

”Terjadinya kecelakaan anak tersedot pembuangan kolam dari pihak De’Keraton awalnya tidak percaya karena tidak ada jejak sama sekali, dan akhirnya terjadi pembongkaran, ternyata terbukti adanya bocah yang tersedot ke pembuangan kolam tersebut. Evakuasi tersebut memakan waktu kurang lebih 20 menit, dan pihak De’Keraton langsung mempersiapkan team Rescue dari RS Fikri Medika, dan kebetulan Bripda Solihin bersama keluarga sedang renang di lokasi itu dan ikut serta turun mengevakuasinya, sampai korban bisa di amankan dan langsung di bawa ke rumah sakit Fikri, selepas di perjalanan anak tersebut masih bisa bernafas dan dilakukannya penggojlokan keluar kotoran serta batuk, sesampe di rumah sakit Fikri langsung di bawa ke UGD, Penanganan dari dokter kurang .dan akhirnya meninggal dunia,” Jelasnya.

Menurutnya, untuk penyelidikan lebih lanjut, saat ini ada beberapa orang yang  sedang di proses atau di BAP di kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut.
“Sampai sekarang karyawan tekhnisi De’Keraton masih dalam proses BAP dan untuk proses selanjutnya sudah di tangani Polres Karawang.

Bahkan dirinya menyangkal kalau korban telah di bawa ke Rumah Sakit Polri, Kramat jati untuk penanganan,

“Penanganan korban tersebut bukan di rumah sakit Polri Keramat Jati melainkan di rumah sakit Fikri Medika, karena secara logika penanganan seperti itu tidak harus yang jauh, karena lokasi kolam renang tersebut berdekatan dengan rumah sakit Fikri Medika,’ Jelasnya.
Namun, pihaknya siap untuk bertanggung jawab dalam segi hal apapun selama itu masih tahap yang wajar dan menjadi kewajiban bagi pihak management untuk memperhatikan hak si korban, pihaknya juga akan menerima apapun hasilnya sesuai dengan penyelidikan dari kepolisian.

“Dan untuk pertanggung jawaban dari pihak Managemant De’Keraton kepada pihak korban mengenai kecelakaan ini sesuai standart yang berlaku, akan segera di upayakan masalah hak dari korban seperti asuransinya, dari pihak managemant d’keraton akan bertanggung jawab sepenuhnya, apapun hasil investigasinya dari pihak kepolisian benar dan tidaknya, salah dan tidaknya terlepas itu semua secara kemanusiaan dari pihak managemant akan bertanggung jawab apapun itu hasilnya.Dan untuk kejadian seperti ini dari team managemant akan berupaya serta menjadi pelajaran untuk kedepannya supaya tidak terjadi kecelakaan yang sama,” Ujarnya.

Dirinya menambahkan, ada sejumlah petugas yang berjaga di area Waterpark De’Keraton, tapi saat terjadinya insiden kecelakaan, semua petugas fokus kepada wahana ombak, dan lokasi dimana sikorban kecelakaan tidak terpantau, hingga sekarang pihaknya tidak percaya dengan adanya tragedi tersebut.

“Untuk team pengawasan di lokasi kolam renang ada 8 orang, dan pada waktu terjadinya kecelakaan  ,bersamaannya wahana ombak di mulai dari team penjaga kolam renang fokus ke wahana ombak tersebut sehingga di lokasi yang berlainan tidak terpantau adanya kecelakaan. Dengan lubang pembuangan 12 inci dari pihak managemant d’keraton masih tidak mempercayai anak seumuran 12 tahun bisa tersedot ke lubang tersebut,karena dari awal pembangunan ada perencanaanya. Lubang pembuangan tersebut emang di rancang khusus untuk mengumpulkan wahana air mancur,” Pungkasnya.(Din)